Di
luar kegelapan mulai menggel
ayut. Matahari memar di kaki langit
menyisakan luka bakar di cakrawala. Gelap bagai kerumunan kelelawar yang
begitu garang menghisap sisa darah yang basah pada langit. Cahaya bulan
pucat pasi mengerjap-ngerjap di antara dedaunan yang gelisah tertiup
angin. Bayangan pepohonan tafakur.
Lalu,
di antara pepohonan, suara-suara burung hantu resah. Dan di kejauhan
rintihan terdengar menyayat dari mulut orang-orang. Ketika cahaya bulan
tertimbun gerimbunan awan hitam yang saling
bertaut. Ketika cahaya bulan yang melekat di dedaunan perlahan tersesap
gelap. Ketika gelisah mengecambah dan malapetaka meretas kedamaian.
Sebuah kerinduan bagai gemuruh ombak menerkam di dada.
Jerit ribuan kelelawar yang menjuntai di atas kuburan tua, menyisakan pilu. Di atas kuburan tua, langit bercerita tentang masa silam. Suara angin mendesir menyusup memecah di antara jerit suara-suara jangkrik. Lalu diam. Sunyi menjalar.
Burung-burung tak
lagi merentas di kaki langit. Masa lalu menjadi sebuah cerita yang
memilukan. Rengsa seolah menjelma keabadian. Cahaya-cahaya berpendar,
lalu lenyap meninggalkan gelap. Sisa-sisa kesunyian dan udara dingin
meremangkan bulu roma. Angin sesekali berkesiur. Lalu malam menjelma
ngarai. Sunyi menebah resah.
***
Begitulah,
setelah kesunyian yang menggelisahkan itu berlalu, cahaya-cahaya
berpendar dan melayang di angkasa. Kadang pula menyisakan erang. Perih
menyayat. Langit benderang dan angin berdesir lembut. Suara lolongan
anjing, kabarkan berita ketiadaan fana; kematian yang meretas mimpi.
Lamat-lamat
suara tahlilan masih terdengar lembut tertiup angin malam yang dingin.
Kulihat ibu terisak. Matanya sembab oleh air mata. Dari bibirnya suara lirih lenguh menyebut namaku. Di depannya jasadku terbujur kaku.
“Lihatlah, ibumu begitu bersedih. Ia benar-benar kehilangan.”
Cahaya yang sejak pertama menemaniku memelukku.
“Ibumu sangat menyayagimu.”
Beberapa tetangga nampak berusaha untuk menenangkan ibu. Desis suara rintihan ibu masih terdengar. Pilu….
Begitu menyayat. Kudekati tubuh ibu yang masih terisak-isak. Udara yang
bertiup membuat tubuhnya menggigil. Aku berusaha mendekapnya. Kuusap wajah ibu yang mulai berkerut.
“Bu, aku di sini. Di dekatmu. Aku akan menemani ibu.”
Kucium dahinya. Lembut….
“Ibu, aku di dekatmu.”
Ibu mendadak tersentak. Sejenak ia terdiam. “Aku mencium bau anakku. Ya. Aku mencium baunya. Ia pasti masih ada di dekatku.”
Para tetangga seketika terperanjak. Mereka saling berbisik. Beberapa di antaranya mendekati ibu dan berusaha menenangkannya.
“Anakmu pasti sedang berbahagia.”
Namun ibuku nampak gelisah. Meski tak ada resah.
“Betul
ibu, aku sangat berbahagia di sini. Aku seakan bangun dari tidur
panjang. Tubuhku seakan terlepas dari penjara dan melayang di angkasa.”
Kubelai rambutnya yang telah banyak memutih.
“Tapi
aku mencium bau anakku,” jeritnya lalu kembali menangis.
Perempuan-perempuan yang berada di sampingnya pun akhirnya juga ikut
menangis.
Mereka
menganggap ibu sedang menghayal. Aku berusaha menenangkan ibu. Tapi ia
tak menyadari kedatanganku. Air matanya masih saja mengalir membasahi
pipinya. Sesekali ia menyeka dengan sapu tangan yang disulamnya sebagai
hadiah ulang tahunku. Di situ namaku tergurat indah dengan warna biru
kesukaanku. Dan di bawah namaku, tertulis dengan benang keemasan, hari,
tanggal, bulan dan tahun kelahiranku. Bahkan jam, dan menit tak lupa ibu
sulamkan.
Sebuah
masa silam yang terukir indah dalam genggamanya. Bibirnya terus
memempel di guratan namaku. Aku merasakannya. Sentuhan kasih sayang
seorang ibu. Hari-hari di masa purba telah kulewatkan bersamanya. Ada
selarit jerit kerinduan yang membuncah di dadanya. Suaranya lirih tak
henti-henti menyebut namaku.
Kembali
aku mengusap wajahnya. “Ibu bersabarlah. Ini aku, Amin, anakmu. Aku
sedang mengusap wajahmu, menyeka bening air matamu dan membelai rambutmu
yang masih tergerai panjang.”
Ibu
malah semakin menangis. Suaranya kian menggema. “Aku mencium bau
anakku. Ia berada di dekatku. Aku benar-benar mencium baunya.”
Aku melayang dan berputar di atas kepala ibu. Lalu cahaya yang menemaniku juga turut berputar mengikuti gerak hatiku.
“Ibu ini aku. Aku di atas kepalamu.... Aku bersama malaikat. Lihatlah cahaya-cahaya di atas kepalamu.”
Aku
kembali menciun keningnya. Tenang. Kerinduanku bagai gemuruh badai yang
tiba-tiba saja hening tatkala berumah di bening mata ibu.
“Anakku….
Aku mencium baunya. Ia berada di dekatku,” jeritnya dengan air mata
yang kian mengalir membasahi pipinya. Disekanya sesekali, lalu kembali
menangis.
Perempuan-perempuan yang berada di sampingnya kembali menenangkan ibu. Mereka membawa ibu ke dalam kamar.
“Berbaringlah dulu. Tenangkan perasaanmu.”
Tubuh ibu masih terguncang-guncang oleh tangisnya yang semakin keras. Kulihat
tubuhku masih terbujur kaku terbungkus kain kafan. Seorang lelaki tua,
bersila di samping tubuhku. Lalu mulutnya komat-kamit membacakan doa.
Suasana hening. Hanya suara isak yang tertahan terdengar sesekali dari
ruang bilik ibu.
Setelah
semuanya selesai, beberapa orang mengangkat tubuhku dan memindahkannya
ke dalam keranda. Lantunan ayat-ayat al-Quran mengiringi. Setelah
menyelesaikan semua prosesi, mereka lantas mengangkat keranda dan
membawanya ke tempat pemakanan yang tidak begitu jauh dari tempat
tinggalku.
Gundakan
tanah pekuburan yang digali nampak masih merah basah. Cahaya bulan
pucat terpantul dipermukaannya. Suara jangkrik melengking di tengah
kesunyian kuburan tua. Orang-orang bergerombol mengerubungi liang tempat
tubuhku akan dibenamkan. Beberapa lelaki turun dan meletakkan tubuhku.
Kulihat saudara ibu dan anaknya meletakkan tubuhku. Lantunan doa-doa
mengiringi….
Perlahan-lahan
tanah merah yang masih basah itu diuruk. Kulihat ibu jongkok di samping
gundukan tanah yang panjangnya tak lebih dari setengah meter dan
memegang nisanku. Ia masih menangis. Matanya merah dan bengkak.
Lalu
sepi…. Orang-orang yang mengantar jasadku, satu persatu meninggalkan
kuburan tua yang gelap dan mencekam. Derap langkah kaki-kaki mereka
masih terdengar meninggalkan jejak-jejak di tanah yang masih basah.
Rinai memang baru saja berlalu. Udara dingin menggigilkan dedaunan yang
memantulkan cahaya bulan. Angin berkesiur lembut.
Kuburan
tua kembali lengang. Mencekam. Cahaya-cahaya berpendar menuju langit.
Ada jeritan yang sesekali menggema meninggalkan kepedihan. Di atas
langit, gerimbunan awan bertengger memeluk bulan. Aku melesat menembus
kegelapan meninggalkan tubuhku.
***
Di kamar masih terdengar suara ibu yang terisak. Matanya nampak sembab. Di dadanya menempel fotoku yang didekapnya erat-erat.
“Ibumu benar-benar merasa kehilangan.”
Pandanganku
masih melekat di wajahnya. Kesedihan menggelayut jelas di raut wajahnya
yang telah ditumbuhi garis-garis ketuaan yang kian tegas. Namaku masih
menebar dari kedua bibirnya yang bergetar. Lirih... Kepiluan mengendap
bersamanya.
Aku
ingin kembali menenangkannya. Kudekati tubuhnya yang kian letih. Suara
desis lembut terus menebarkan namaku. Lenguh…. Ada getaran kerinduan
yang retas menyayat.
“Ibu,
ini aku anakmu. Lihatlah cahaya-cahaya di atas kepalamu. Itu aku ibu,
anakmu. Aku ingin kau merasakan sentuhanku.” Kugerai rambutnya yang
nampak acak-acakan dan membelainya dengan lembut. Ia hanya merasa
kedinginan. Seperti ada angin yang menerpa rambutnya. Ia masih tak
merasakan kehadiranku. Lalu keningnya kukecup.
“Ibu
aku di sini. Aku di atas kepalamu. Lihatlah cahaya-cahaya itu.” Ibu
malah melangkah ke arah jendela dan menutupnya. Tubuhnya lunglai dan
langkahnya gontai kembali menuju pembaringan. Aku hanya menatapnya.
Kerinduan akan belaiannya, kian membuatku gundah.
“Bersabarlah. Ibumu tak akan dapat merasakan kehadiranmu.”
“Aku tak ingin ibu seperti itu. Aku tak ingin ibu menderita karena kepergianku. Sungguh, aku begitu menyayanginya.”
“Tunggulah sampai ia tertidur. Lalu ajaklah ia berbincang dan berikan ketenangan kepadanya.”
Angin
malam yang menerobos melalui celah-celah jendela kamar, menyisakan
desir dan dingin yang meregangkan pori-pori. Malam bertambah kelam.
Cahaya bulan seolah terhisap gerimbunan awan.
Ibu kembali merebahkan tubuhnya. Diraihnya fotoku dan didekapnya begitu lembut. Suara isak masih terdengar lirih dari bibirnya. Malam
dilaluinya dengan terus memeluk fotoku. Sesekali diciuminya dengan
penuh kasih sayang. Hingga menjelang subuh, ibu baru tertidur. Foto di
dadanya masih melekat. Begitu erat.
“Sekarang panggillah ibumu! Peganglah tangannya! Jangan lepaskan!”
“Ibu, kemarilah. Ini aku, anakmu.”
Ketika ibu melihatku, ia tersentak dan buru-buru kembali bersembunyi. Ia terbangun, nafasnya memburu.
“Aku bertemu anakku. Ya… Amin datang menemuiku,” ucapnya lirih. Nafasnya tersengal.
“Iya, ibu. Aku memang ingin menemuimu. Aku ingin engkau tahu bahwa aku di sini bagitu bahagia.”
Ibuku tak juga mendengar ucapanku. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali tertidur.
Lalu….
“Ibu
kemarilah. Ini aku, Amin, anakmu.” Aku kembali memanggilnya. Kutarik
tangan ibu dengan lembut. Perlahan, ia pun keluar dari persembunyiannya.
Seperti orang kebingungan, pandangan ibu mengembara, “Anakku. Mengapa engkau berada di sini?”
“Aku ingin menemani ibu.”
“Kau nampak gagah sekali. Tubuhmu sangat bersih dan wajahmu bercahaya. Kau pasti sangat berbahagia.” Ibu mendekapku erat-erat, tapi terasa begitu lembut.
“Aku baik-baik saja. Aku masih hidup. Aku hanya tertidur ibu. Dunia ternyata hanya mimpi dan mati hanyalah jalan menuju kehidupan yang abadi. Lihatlah, bukankah aku masih hidup?”
Kulihat wajah ibu nampak berseri. Kebahagiaan terlukis indah di wajahnya. “Jadi kau masih hidup anakku?”
“Iya,
ibu. Aku bahkan semakin sehat. Aku sangat berbahagia di sini. Ayah dan
adikku juga bersamaku. Mereka sedang berkumpul di atas sana.”
“Di mana mereka, aku ingin bertemu?” Matanya mengekori arah telunjukku. Yang dilihatnya hanya cahaya.
“Tidak
ibu. Ibu tak dapat menemui mereka. Tapi ayah dan adikku dalam keadaan
baik. Mereka sangat berbahagia. Sama seperti aku. Itu semua berkat
doamu.”
“Anakku,
sekarang ibu tinggal sendiri. Ibu merasa kesepian.” Wajah ibu
tertunduk. Lesu. Kembali ia menatapku. Dirabahnya wajahku, lalu
mengusapnya perlahan penuh kasih sayang.
“Tidak
ibu. Aku akan tetap bersama ibu. Aku selalu menemani ibu. Lihatlah
nanti cahaya-cahaya di atas kepala ibu. Itu aku, anakmu. Aku selalu
berada di dekatmu.”
“Siapa dia?”
“Dia malaikat yang menemaniku.”
“Cepat lepaskan tangan ibumu! Biar ia dapat merasakan kehadiranmu.”
Segera kulepas tangannya. Kulihat ibu, terbangun. Matanya mengerjap—ngerjap, lalu menatap ke seluruh pojok kamar. Fotoku masih dalam dekapannya. Semakin erat tangannya melekatkan fotoku di dadanya.
“Anakku
masih hidup. Anakku masih hidup.” Ibu lalu menghambur berlari ke luar
kamar. Dan fotoku diletakkan di ubun-ubun kepalanya.
“Anakku masih hidup. Anakku masih hidup.” Ia terus berlari menerobos kebisingan suara-suara.
Rambutnya
yang terurai acak-acakan terhempas angin pagi. Ia terus saja berlari.
Mengabarkan kebahagiaan yang ia rasakan. Kegelisahan tak lagi
mengecambah. Malapetaka tak lagi meretas kerinduan. Dan rengsa pun tak lagi menjelma keabadian.
Ibu semakin berlari mengejar burung-burung yang merentas di kaki langit. Lalu menghempaskan kesiur angin yang meninggalkan selarit jerit. Di atas kepalanya, cahaya-cahaya memendar ke langit.
“Anakku masih hidup. Anakku masih hidup.”
Wajah
ibu lebuk oleh debu. Langkahnya terus terayun melintas dan menelikung
di antara daun-daun yang berjatuhan. Suaranya menggema di ceruk-ceruk
lembah. Lalu menebah resah di cakrawala. Di mulut
orang-orang, suara itu menyisakan kesedihan. Namun, ibu terus berlari.
Ia terus tertawa. Ada kedamaian yang menggenang.
“Anakku masih hidup. Anakku masih hidup.” Di atas kepalanya cahaya-cahaya begitu menyilaukan. Aku terus membelai rambutnya yang tergerai angin.
Langkahnya
semakin cepat meninggalkan desir kepedihan yang meretas bahagia.
Kepedihan bukan lagi keabadian yang mengejawantah. Bajunya yang
menjuntai, bergesekan menyusuri tanah menghempaskan debu. Jeritnya terus
menggema.
“Anakku
masih hidup. Anakku masih hidup. Lihatlah cahaya-cahaya di atas
kepalaku…!!! Lihatlah cahaya-cahaya di atas kepalaku…!!!”
Ibu
terus berlari mengejar keabadian. Hidupnya hanya untuk keabadian. Ia
begitu mencintai keabadian. Sungguh… sebuah kemurnian cinta telah
membuatnya lupa akan dunianya. Ia terus berlari. Dan cahaya-cahaya di
atas kepalanya adalah garis-garis penegas kerinduan.
Lalu, hening. Angin seketika mati. Daun-daun yang jatuh berhenti laksana manik-manik yang menjuntai dari langit. Langit kembali
bercerita tentang masa silam. Suara lenguh burung-burung hantu tak lagi
terdengar. Lolongan anjing yang menyayat menggiring sisa-sisa
kepedihan. Di sebuah kuburan, gundukan tanah masih merah basah dengan
tiang-tiang nisan yang dingindownload cinta untuk mama



